Cerita Tounge-Tied

Saya pingin sharing dikit tentang tongue-tied.

Mudah-mudahan bermanfaat buat ibu-ibu yang mengalami hal yang sama.

Diagnosis Tongue-Tied

Well, anak saya terdeteksi tounge-tied tepat setelah berulang tahun yang ke – 5. Saya baru menyadari  ada yang salah karena pada sampai umur ini, bicara Hanna masih sangat cadel. Ia kesulitan mengucapkan huruf l, t, d, apalagi r. Jadi saat kontrol kesehatan pada DSA, sekalian saya curhat mengenai keterlambatan bicara Hanna.

Oleh dokter anak di BSD kemudian Hanna diminta membuka mulutnya dan menjulurkan lidahnya. Lalu DSA mengatakan mantap, “ini tongue-tied, Bu. Sebaiknya ibu konsultasi dengan dokter anak spesialis tounge-tied di RSIA KMC”. Toungue-Tied itu sendiri adalah kelainan pada struktur lidah anak, sehingga lidah melekat pada mulut dan menjadi sangat pendek. Toungue-tied menyebabkan kesulitan pelafalan huruf tertentu dan mengganggu aktivitas mengunyah.

Singkat cerita saya kemudaian berkonsultasi kepada dokter di KMC, dan menurut beliau memang betul tounge-tied. Dan menurutnya ini adalah akar masalah tumbuh kembang Hanna selama ini, yakni susah makan, kurus, dan lambat bicara. Dan ia mengusulkan untuk segera melakukan tindakan insisi. Menurutnya setelah insisi kualitas hidup pasien akan jauh meningkat.

Setelah konsultasi kiri-kanan dengan orang tua, mertua, adik, dan kakak akhirnya kita memutuskan untuk melakukan insisi. Awalnya sempat ragu-ragu karena tindakan insisi pada kasus tongue-tied masih kontroversial, dan belum terdata efektivitasnya secara uji klinis. Banyak kasus tongue-tied yang membaik sejalan dengan pertambahan umur anak. Namun kita Bismillah aja menjalaninya. Dasar pemikirannya jangan sampai Kami menyesal karena tidak menjalankan insisi dari awal. Kami gak mau Hanna tumbuh menjadi anak yang kurang PD karena tidak mampu mengucapkan r dengan baik.

Tindakan Insisi

Insisi dilakukan di RSIA KMC oleh Dr Eddy, SPBM. Prosesnya sangat sebentar kurang lebih 10 menit. Namun anak harus dibius total sehingga perlu dilakukan observasi mendalam. Proses insisi sendiri berjalan lancar.

Setelah Insisi

Saat ini kurang lebih 6 bulan setelah insisi dilakukan. Secara umum perkembangan Hanna sangat pesat setelah insisi. Dari perkembangan bicara, hanya pelafalan huruf r yang Hanna belum bisa. Huruf-huruf lain sekarang sudah jelas.

Kemudian Hanna juga sudah mau makan, walaupun masih tetap picky eater. Tapi makannya udah jauh lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Tinggi badan bertambah sekitar 6 cm, berat badan bertambah 2 kg.

Dari segi sosialisasi, kepercayaan diri Hanna Nampak meningkat karena merasa dipahami dengan baik oleh lingkungan. Teman-teman sebaya bertambah banyak baik di sekolah maupun di rumah. Hanna juga aktif di kelas dan ngobrol banyak dengan guru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s